Budget Traveling – Family Heritage Trip

Family trip ke-2 ini terlaksana bulan Februari 2013. Pas Moment ulang tahun dua anak kami yang ke 8 dan 5. Kami berangkat pada sabtu 9 Februari 2013 dan kembali selasa 12 Februari 2013. Destinasi kali ini adalah Kuala Lumpur dan Malaka Malaysia. Traveling ini merupakan pertama kali kami ke Luar Negeri bersama anak.

Sebelumnya kami buat paspor untuk mereka berdua pada November 2012. Cukup efektif menggunakan Layanan pengajuan  paspor online Ditjen Imigrasi.

Perjalanan kali ini di sponsori oleh AirAsia, karena kami mendapatkan free seat 0 rupiah untuk ber 4.  Total biaya tiket pulang pergi adalah Rp.1,373,900 untuk Airport Tax, Air surcharge , Pick a seat, dan Makanan.

9 Feb 2013 :
– Jakarta -Kuala Lumpur
– Kuala Lumpur – Malaka
– Explore Malaka (Taming Sari,Maritim Museum, Stadthuys ,Jonker Street, dll)

10 Feb 2013 :
– Explore Malaka
– Malaka -Kuala Lumpur
– Islamic Art Museum, Masjid Negara Malaysia dll

11 Feb 2013 :
– Aquaria
– KLCC

12 Feb 2013 KL – Jakarta

Day 1- 9 Feb 2013

Perjalanan dimulai dari jam 4 pagi dari rumah  menuju bandara Soekarno – Hatta, flight kami 6:25 QZ8190 Jakarta – Kala Lumpur. Membawa anak-anak harus kami persiapkan lebih awal agar tak menyulitkan jika ada iklan ini dan itu. Sampai di LCCT KL, langsung kami menuju counter bus Transnasional. Setelah mendapatkan tiket untuk ber 4, segera mencari tempat untuk sarapan. Pilihan kami jatuh pada Marry Brown. Menu sarapan nasi Marry Brown dan Kids Meal cukup mengenyangkan.  Selesai sarapan kami langsung menuju bus Platform #4 untuk menunggu waktu keberangkatan bus pukul 11 siang.
Perjalanan LCCT- Malaka, ditempuh sekitar 2,5 jam * tanpa macet ;). Alhamdulillah kami sampai di Halte Mahkota Hospital Langsung tancap kaki Eksplore Malaka, tujuan pertama kami  Muzium UMNO dan Menara Taming sari . Dari menara ini kita bisa melihat kota malaka dari ketinggian dengan view 360 derajat karena diatas menara akan berputar.
Lanjut jalan kaki ke Maritim Museum bentuknya adalah replika kapal Flor de la Mar, didalamnya dapat kita telusuri sejarah Malaka sejak abad ke 14 dari benda- benda peninggalan sejarah yang menceritakan aktivitas perdagangan di selat malaka saat itu. Bedanya dengan museum di indonesia adalah kalau di sini semua terawat dan bersih, nah kalau museum Indonesia keseringan tidak terawat dan cenderung horor.
Dari Museum maritim kita menuju Porta de santiago , The Stadhuys,  Christ Curch, menyusuri jalan Laksamana untuk segera menuju penginapan kami di  Mio Boutique Hotel di  Jl. Persisiran bunga Raya Jonker street

Advertisements