Mendadak Nagoya – Day 5

Hari ke 5 di Jepang, 11 Nopember 2013.
Malem itu rupanya suhu udara mencapai 8 C. Pantas dari sore Taka-san sudah remind kalo malam ini bad weather. Seperti biasa jam 6 pagi kami sudah bangun. Namun hari itu @sapijowo tidak berminat join bersepeda ke Ohashi Bridge untuk menikmati pemandangan Gunung Fuji yang legendaris. Rupanya kaki @sapijowo masih capek-capek hasil bersepeda sejauh 15 KM. Jadi lebih memilih beberes barang-barang.
Gunung Fuji memang cantik. Pagi itu puncak Fuji yang selalu bertudung putih terlihat jelas. Tidak malu-malu berselubung awan mendung sebagaimana sore hari sebelumnya. Konon belum sah ke Jepang kalo belum berfoto dengan Gunung Fuji. Jadi dengan sepeda yang dipinjamkan gratis oleh Taka-san, saya membawa tripod, air minum dan mengayuh kembali. Tidak jauh dari penginapan, di Yagizaki Park depan Lake Land hotel Mizunosato saya mendapat view yang cantik ini. Meski view terbanyak tetap dari atas jembatan. Sepagi yang dingin itu, sudah banyak orang yang mengabadikan diri dengan Gunung Fuji.
2

1 3
Kembali ke Nishimiyasou, kami dijamu dengan sarapan sehat lagi. Kali ini lauknya salmon panggang. Orang Jepang memang detil dan rapih. Sarapan saja harus diatur sedemikian rupa, dengan banyak pernik. Bandingkan dengan sarapan bubur ayam yang semua sudah teraduk dengan dalam satu mangkuk.4 
Di Kawaguchiko ini kami merubah plan. Awalnya kami akan mengambil Bus langsung ke kyoto seharga 8000 Y. Bisnya sendiri baru ready sekitar  jam 24 malam. Belajar dari pengalaman day 4, kami agak bingung bagaimana mengisi waktu menunggunya. Karena kota relatif sepi. Akhirnya diputuskan untuk kembali lagi ke Shinjuku, dan mengambil Bus ke Kyoto dari sana. Perjalanan berulang sebagaimana keberangkatan dari Shinjuku.
7
Sesampai di terminal Bus antar kota shinjuku, kami langsung ke kounter tiket lagi untuk memesan tiket malam itu ke Kyoto.Sayangnya Keio kehabisan tiket. Rupanya hari Minggu sore ini banyak yang melakukan perjalanan ke Kyoto. Masuk akal sih, tiket perjalanan dengan Shinkansen termurah seperti Kodama nyaris 2 kali lipat harga tiket bus, apalagi Nozomi yang bisa 3 kali lipat mahalnya. Selain menghemat waktu karena perjalanan dilakukan di malam hari.
Dari Keio, kami ke JTB (Japan Travel Beaureu). Di sinipun setelah dibantu oleh mbak petugas, lagi-lagi dengan English Tarzan, kami diberitahu kalo rupanya tiket juga sudah habis. Dengan agak ketar-ketir, kami lanjut ke sumitomo Building, ke kantor Willer. Dan rupanya habis juga, waduhh..rupanya memang tidak bisa go show di Jepang ini. Persiapan kita harus detil sampai ke teknis perjalanan antar kota ini.
Diskusi dengan @sapijowo bagaimana kalo menambah satu malam di Tokyo, baru keesokan harinya kami ke Kyoto dengan Shinkansen. Tapi biaya bertambah drastis, karena ada tambahan biaya menginap selain transportasi yang 2 kali lipat. Dan waktu yang terbuang, karena pagi-pagi besoknya seharusnya kami sudah exploring Arashiyama. Akhirnya kami coba ke Nagoya dulu, dan beruntung kami masih mendapatkan kursi hari itu, meski harus di baris paling belakang. Nagoya sebenarnya masih 2 jam perjalanan kereta ke Kyoto, tapi jauh lebih baik dibanding harus menginap lagi di Tokyo. Total 1,5 jam kami habiskan untuk hunting tiket ini, ditambah capek yang tidak perlu karena mondar mandir ke sana kemari. Lesson learn : persiapkan sedetil mungkin dari tanah air.
harajuku
shibuya
Semasa menunggu, akhirnya kami wisata kota juga. Padahal awalnya tidak ada di itinerary kami. Sebagaimana umumnya turis Indonesia, akhirnya kami ke Harajuku. Yang ternyata sama aja kaya Pasar Barroe ya 🙂 Lepas dari harajuku kami ke Shibuya, penasaran dengan persimpangan yang katanya teramai sedunia itu. Dan benar memang buanyak banged orang tumplek blek ke jalan ketika waktu menyeberang. Wedann .. berasa bubaran acara dangdut tujuh belasan. Kami tidak ikut-ikut poto-poto di Hatchiko (asunya Prof Ueno). Tapi kalo penasaran, lokasinya ada di bawah pohon di depan gedung yang ada kotak merah kuning biru.
Puas dari Shibuya, karena kaki yang mulai berat (tanpa sadar hari itu mungkin kami sudah berjalan di atas 10 KM). @sapijowo mengajak makan di Tempura tendon tenya (http://shinjuku-chuo.com/shop/tenya/tenya_e.htm). Di udara yang dingin dan perut lapar, tempura yang kami makan jadi super lezatoss.
8
5 
Sampai di terminal keberangkatan willer yang mewah masih jam 10 malam, sementara bis jam 24.20. Saya menyeret @sapijowo yang mulai kecapekan jalan menuju TMG Building. Mumpung belum tutup, karena salah satu observatories(north) tutup jam 23 malam. Dengan ketinggian 202 M, dan view ke segala arah dari lantai 45. Tokyo terlihat sangat cantik di malam hari.
P1030586_Fotor_Collage6  
@agung_erwan
20131222

Advertisements

2 thoughts on “Mendadak Nagoya – Day 5

  1. mas nginep Nishimiyasou, Fuji Kawaguchiko sarapan gratis or ngga? brp harga breakfastnya? klo sarapan Rindou No Ie, Nikko itu perorang atau udah semua.. thanks

  2. Di Nishimiyasou sudah include, kalo di Rindou No Ie 700 JPY breakfast per orang. Tapi by email biasanya dikasih diskon sama Shizuo-san kalo lagi sepi 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s